Amputasi tanpa bius, bagaimana rasanya?
Amputasi tanpa bius, tanpa
memasukkan alcohol dan tanpa obat yang menyebabkan kehilangan kesadaran pernah
dilakukan oeh seorang Tabiin. Beliau Cuma mengandalkan kalimat tauhid dan
takbir. Bagaimana rasanya? Bagaimana pua ceritanya?
(diabetmilitus.wordpress.com)
Urwah ibn Zubairlah orangnya anak dari sahabat rasulullah Zubair ibn awwam dengan Asma’ binti Abu bakar, Urwah lahir pada tahun terakhir di zaman kholifah Umar ibn khottob radhiyallahu anhu.
Suatu ketika Walid ibn Abdul malik
yang sebagai kholifah pada masa itu memanggil Urwah ke Damaskus, berangkatlah
Urwah bersama dengan anaknya yang paling besar. Ketika sampai di Damaskus disambutlah
Urwah dengan sambutan hangat dan meriah kemudian tinggallah di Damaskus selama
beberapa waktu sampai suatu ketika Urwah mendapat cobaan yaitu ketika anaknya memasuki
kandang kuda kholifah untuk berkuda, namun apa yang terjadi? Kuda tersebut
menendangnya dengan sangat kuat sehingga putra dari Urwah meninggal dunia
akibat tendangan kuda tersebut.
Kesedihan atas meninggalnya anak beum selesai beliau mendapat ujian lagi yaitu salah satu kakinya terkena penyakit yang menjalar dengan cepat, kemudian kholifah memanggil para dokter yang ada di Damaskus untuk mengobati penyakit Urwah, para dokter sepakat untuk mengamputasi betis Urwah sebelum penyakitnya menjalar ke seluruh tubuh yang bisa menyebabkan kematian. Keimanan Urwah yang kuat menjadikan ini semua sebagai ujian dan menyerahkan semua urusannya Allah tuhan semesta alam yang menjadikan sehat atau sakit, matia atau hidup.
Ketika dokter bedah datang dengan semua peralatan bedah untuk mengamputasi kaki Urwah, dokter berkata : saya akan memberimu minuman khomer agar engkau tidak merasakan sakitnya diamputasi. Urwahpun menjawab : tidak mungkin, saya tidak akan menggunakan barang haram untuk mendapatkan kesembuhan. Dokter berkata: kalau begitu saya akan memberimu narkotika? Urwah berkata: saya tidak suka anggota tubuh saya dipotong sedangkan saya tidak merasakannya, saya berharap pahala kepada Allah atas amputasi ini.
Ketika dokter bersiap mengamputasi kakinya datanglah segerombolan orang laki-laki mendekati Urwah, diapun berkata: siapa mereka? Dokterpun menjawab : mereka yang akan memegangimu apabila kamu kesakitan nanti agar amputasi berjalan dengan lancer. Urwahpun menjawab: kembalikan mereka saya tidak membutuhkannya saya akan mencukupinya dengan dzikir dan tasbih kepada Allah. Ketika Amputasi dimulai Urwah membasahi mulutnya dengan selalu membaca LAA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR dan kalimat tayyibah itu terus beliau ucapkan sampai kakinya selesai diamputasi. Kemudian minyak dipanaskan diatas panci besi dan disiramkan ke kaki Urwah untuk menghentikan darah yang terus mengucur dari kakinya akibat amputasi tersebut. Urwahpun pingsan setelah sebelumnya tanpa berhenti mengucapkan tahil dan takbir.
Ketika sadar dari pingsannya Urwah
meminta kaki yang sudah diamputasi kemudian menciumnya dan berkata : engkau
yang membwaku ke masjid ketika malam hari, Allah maha mengetahui bahwa saya
tidak pernah berjalan denganmu kepada keharaman.
Inilah salah satu contoh orang
yang merasakan nikmatnya berdzikir kepada Allah dengan membaca kalimat
thayyibah sampai rasa sakitnya amputasipun tidak dirasakannya.
Amputasi tanpa bius? tidak terasa sakit dengan memperbanyak berdzikir
kepada Allah, karena nikmat berdzikir lebih besar dari rasa sakit amputasi itulah salah satu pelajaran yang bisa kita petik dari Urwah ibn Zubair.

0 Response to "Amputasi tanpa bius, bagaimana rasanya?"
Post a Comment